Circular agriculture merupakan pendekatan dalam pertanian modern yang berfokus pada pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan melalui sistem tertutup, dimana limbah produksi tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi input bagi proses lainnya. Seperti pemanfaatan jerami sebagai pupuk organik atau sekam sebagai sumber energi biomassa. Konsep ini menjadi semakin penting karena pertanian modern menghadapi tantangan besar seperti keterbatasan lahan, perubahan iklim, peningkatan kebutuhan pangan, serta tingginya limbah pertanian yang berpotensi merusak lingkungan. Dengan menerapkan circular agriculture, sistem pertanian dapat menjadi lebih efisien.
Sistem circular alami pada tanaman padi terlihat dari pemanfaatan hampir seluruh bagiannya, mulai dari gabah, jerami, sekam, hingga dedak yang masing-masing memiliki nilai guna. Dengan prinsip ini, rantai produksi menjadi minim limbah karena sisa panen kembali dimanfaatkan sebagai input baru. Konsep circular tersebut juga dapat meningkatkan efisiensi budidaya, menekan biaya, serta menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan Safriyani dkk. (2024) yang menyatakan bahwa konsep circular bertujuan memperpanjang siklus pemanfaatan sumber daya suatu wilayah, produk dan bahan baku yang ada agar dapat dipakai secara berkelanjutan.
Pemanfaatan produk sampingan padi merupakan bagian penting dalam mendukung sistem pertanian yang lebih efisien dan bernilai tambah. Selain gabah sebagai hasil utama, berbagai turunan padi juga memiliki potensi ekonomi dan fungsional yang luas untuk kebutuhan pangan, pakan, energi, maupun bahan baku industri.
- Jerami: dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahan kompos, mulsa, hingga media budidaya jamur
- Sekam: digunakan sebagai bahan bakar, arang sekam, media tanam, serta campuran material bangunan ringan
- Dedak: menjadi bahan utama pakan ternak dan bahan baku industri pakan
- Bekatul: kaya nutrisi dan sering dimanfaatkan untuk bahan pangan fungsional maupun produk kesehatan
- Menir beras: digunakan sebagai bahan olahan pangan seperti tepung beras, bubur, atau campuran produk makanan.
Penerapan circular agriculture pada sistem budidaya padi meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mengurangi limbah, menekan biaya produksi, serta menjaga kesuburan tanah melalui pemanfaatan kembali jerami, sekam, dedak, bekatul, dan menir sebagai input bernilai tambah. Konsep ini juga membuka peluang pengembangan usaha berbasis pupuk organik, bioenergi, pakan ternak, dan pangan fungsional yang sejalan dengan tren green agriculture dan bioeconomy. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala seperti keterbatasan akses teknologi, kebutuhan investasi awal, serta perlunya dukungan kebijakan dan pasar agar sistem circular dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Pemanfaatan prinsip circular pada budidaya padi menunjukkan bahwa sistem pertanian dapat berjalan lebih efisien melalui optimalisasi hasil panen dan meminimalkan limbah. Pemanfaatan produk utama maupun sampingan seperti jerami, sekam, dedak, bekatul, dan menir tidak hanya menekan biaya produksi dan menjaga kesuburan tanah, tetapi juga membuka peluang nilai tambah di sektor pangan, pakan dan bioenergi. Dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, pendekatan ini berpotensi menjadi strategi pertanian berkelanjutan untuk menjawab tantangan pertanian modern.
Puspita, K., Izzaty, N., Agustina, S., Fadlia, F., & Ansari, M. (2024). Implementasi Ekonomi Sirkular Budidaya Tanaman Padi Pada Kelompok Tani Soponyono I Di Desa Tanah Priuk Kabupaten Musi Rawas. Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan, 4(3).
Penulis: Rizka Alvina Rachmawati
Editor: MTani Editor (Nur Syifaa Ramdani)


