Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri dalam budidaya padi karena menurunnya curah hujan dan terbatasnya ketersediaan air irigasi. Kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus, terutama pada fase-fase pertumbuhan padi yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah cukup, seperti pembentukan anakan, pembungaan, dan pengisian gabah. Apabila tanaman mengalami cekaman kekeringan pada fase-fase kritis tersebut, pertumbuhan dapat terganggu, jumlah anakan produktif berkurang, proses pembungaan tidak berlangsung optimal, hingga pengisian gabah menjadi kurang sempurna. Dampaknya, produktivitas tanaman dapat menurun dan hasil panen yang diperoleh petani berpotensi tidak maksimal.
Selain menyebabkan keterbatasan air bagi tanaman, musim kemarau juga dapat meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit pada pertanaman padi. Kondisi tersebut mendukung perkembangan berbagai Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), sementara suhu yang tinggi dapat mempercepat siklus hidup beberapa hama sehingga risiko serangan di lapangan perlu diwaspadai. Beberapa hama dan penyakit yang umum menjadi perhatian pada musim kemarau antara lain Wereng Batang Coklat (WBC), walang sangit, tungro, dan blas.
1. Wereng Batang Coklat (WBC)

- Daun menguning hingga mengering, terutama pada serangan yang sudah cukup berat
- Tanaman tampak seperti terbakar (hopperburn), biasanya muncul dalam bentuk petak-petak di sawah
- Banyak wereng ditemukan di pangkal batang, terutama saat tanaman digoyangkan atau diamati dari dekat
2. Walang Sangit

- Serangga sering ditemukan pada malai padi, terutama saat fase berbunga hingga pengisian bulir
- Bulir padi menjadi hampa atau terisi tidak sempurna akibat cairan bulir diisap oleh hama
- Kualitas gabah menurun, ditandai dengan bulir yang keriput atau berwarna kusam
3. Tungro

- Daun menguning hingga kuning jingga, biasanya dimulai dari ujung daun lalu menyebar
- Pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil) dibandingkan tanaman sehat di sekitarnya
- Jumlah anakan berkurang, sehingga tanaman tampak kurang rimbun dan berpotensi menghasilkan lebih sedikit malai
4. Blas

- Muncul bercak pada daun berbentuk belah ketupat, dengan bagian tengah berwarna abu-abu atau keputihan dan tepi berwarna coklat
- Bercak dapat meluas dan menyatu sehingga sebagian daun mengering
- Pada serangan berat dapat menyerang leher malai, menyebabkan malai mengering atau gabah tidak terisi sempurna
Berbagai risiko yang muncul selama musim kemarau dapat diminimalkan melalui penerapan budidaya yang tepat. Pengelolaan air secara efisien menjadi langkah penting untuk memastikan kebutuhan tanaman tetap terpenuhi meskipun ketersediaan air terbatas. Selain itu, penggunaan varietas yang adaptif terhadap kondisi kekeringan juga penting dilakukan mengingat cekaman kekeringan pada lahan sawah dapat menurunkan produktivitas padi. Pemilihan varietas yang tepat dapat membantu menjaga hasil panen tetap optimal meskipun ketersediaan air terbatas (Pramudyawardani dkk., 2017). Pemupukan dan perawatan tanaman yang tepat juga perlu dilakukan untuk menjaga pertumbuhan tetap optimal, sekaligus mendukung tanaman agar lebih tahan terhadap berbagai gangguan yang dapat menurunkan produktivitas.
Pramudyawardani, E. F., Wening, R. H., & Susanto, U. (2017). Daya Hasil Galur-Galur Padi Sawah Generasi Lanjut pada Kondisi Tercekam Kekeringan. Agrin, 21(2), 115-126.
Penulis: Rizka Alvina Rachmawati
Editor: M-Tani Editor (Nur Syifaa Ramdani)


