MTani Group

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 27 Oktober-2 November 2026: Di Balik Kondisi Kering, Peluang Hujan Mewarnai Awal November di Sejumlah Wilayah

Di Balik Kondisi Kering, Peluang Hujan Mewarnai Awal November di Sejumlah Wilayah

Pengaruh El Niño sangat kuat yang berlangsung bersamaan dengan IOD positif menjadi salah satu faktor pendukung yang perlu dicermati dalam memantau kondisi kering di Indonesia. Selama periode 22–25 Oktober 2026, tutupan awan dan curah hujan masih terbatas di sejumlah wilayah. Hal ini berbeda dari suhu udara, dimana sejumlah wilayah teramati mengalami suhu udara relatif lebih tinggi. Suhu udara maksimum yang mencapai 38°C atau lebih tercatat di Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Cuaca panas dan terbatasnya curah hujan di sejumlah wilayah juga menjadi indikator dalam menganalisis potensi karhutla. Selama 10 hari terakhir, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan mencapai 4.098 titik. Analisis citra satelit menunjukkan 879 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi juga teramati di Papua Selatan dan 784 titik di Sumatera Selatan. Senada dengan jumlah titik panas yang masih tinggi, asap juga masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Meskipun keberadaan titik panas tidak selalu menunjukkan terjadinya kebakaran, peningkatannya perlu diwaspadai untuk mendukung langkah mitigasi dan penanganan yang tepat. 

Meskipun sebagian wilayah Indonesia masih diliputi kondisi kering, distribusi curah hujan pada periode 22–25 Oktober 2026 memperlihatkan bahwa kondisi atmosfer relatif bervariasi antarwilayah. Hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem tercatat mencapai 187.0 mm/hari di Aceh, 103.0 mm/hari di Sumatera Utara, 86.2 mm/hari di Jawa Barat, 80.0 mm/hari di Sumatera Barat, 78.0 mm/hari di Kepulauan Riau, 65.0 mm/hari di Papua, dan 61.0 mm/hari di Riau. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan sejumlah gelombang atmosfer seperti Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang MRG berkontribusi terhadap dinamika pembentukan awan hujan. Kondisi tersebut didukung oleh perlambatan dan pertemuan angin serta suhu muka laut yang relatif hangat, sehingga dapat meningkatkan ketersediaan uap air untuk proses konveksi.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Berdasarkan prediksi BMKG untuk Dasarian I November 2026, 77,72% wilayah Indonesia diperkirakan berada pada kategori menengah (50–150 mm/dasarian), diikuti kategori rendah (0–50 mm/dasarian) sebesar 20,72% dan kategori tinggi (150–300 mm/dasarian) sebesar 1,56%. Curah hujan kategori menengah diprediksi mendominasi sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Papua, serta sebagian Jawa dan Sulawesi. Sementara itu, curah hujan kategori rendah diperkirakan masih terjadi di sebagian wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sulawesi dan Maluku.

Meskipun secara umum curah hujan diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, sejumlah dinamika atmosfer masih berpotensi meningkatkan aktivitas pembentukan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia. Dalam sepekan ke depan, aktivitas MJO diperkirakan mempengaruhi sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan selatan. Selain itu, aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity juga diperkirakan berlangsung di sebagian wilayah Indonesia bagian barat, serta Gelombang Kelvin yang diprediksi aktif di sebagian wilayah Indonesia bagian utara. Kombinasi aktivitas MJO dan gelombang atmosfer tersebut berpotensi menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah dengan pemusatan massa udara dan didukung dengan kondisi atmosfer yang labil. 

Di samping pengaruh MJO dan gelombang atmosfer, keberadaan sirkulasi siklonik yang diperkirakan terbentuk di Laut Andaman dan Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat Daya turut berpotensi mempengaruhi pola angin regional. Kedua sistem tersebut dapat membentuk daerah perlambatan dan pertemuan angin di sekitar pusat sirkulasi.Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan konvektif, sehingga berpeluang memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang. Dengan demikian, meskipun akumulasi curah hujan pada skala dasarian diperkirakan relatif masih dalam kategori rendah-menengah di sejumlah wilayah, potensi hujan signifikan dalam skala harian tetap perlu diwaspadai sebagai dampak dari interaksi dinamika atmosfer regional dan lokal.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Periode 27-29 Oktober 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan. 

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut: 

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.
  • Angin Kencang: Sulawesi Selatan dan Papua Selatan.

Periode 30 Oktober-2 November 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Banten Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut: 

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Kalimantan Barat
  • Angin Kencang: Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan

Imbauan

Masyarakat diimbau untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering seiring musim kemarau yang masih berlangsung. Penggunaan tabir surya diperlukan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.

Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.

Meskipun musim kemarau masih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang berpotensi mengikuti.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.

*Artikel ini diambil melalui portal berita online http://www.bmkg.go.id ( https://www.bmkg.go.id/cuaca/potensi-hujan-sepekan/prakiraan-cuaca-indonesia-sepekan-periode-27-oktober-2-november-2026-di-balik-kondisi-kering-peluang-hujan-mewarnai-awal-november-di-sejumlah-wilayah )

Share the Post: