Banyak petani mengandalkan pupuk kimia untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan hasil panen. Namun, tahukah Anda bahwa ada bakteri alami yang bisa membantu tanaman tumbuh lebih sehat tanpa perlu banyak pupuk buatan? Bakteri ini bernama Azotobacter, yang dikenal sebagai bakteri pengikat nitrogen. Dengan memanfaatkan bakteri ini, petani bisa menghemat biaya pupuk dan sekaligus menjaga kesuburan tanah.
Apa Itu Azotobacter?

Azotobacter adalah salah satu jenis bakteri yang mampu menangkap nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi zat yang bisa diserap oleh tanaman. Proses ini disebut fiksasi nitrogen, yang sangat penting karena nitrogen merupakan unsur utama dalam pertumbuhan tanaman.
Biasanya, tanaman mendapatkan nitrogen dari pupuk seperti urea atau ZA. Namun, dengan adanya Azotobacter, tanaman bisa memperoleh nitrogen secara alami tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia. Bakteri ini hidup di sekitar akar tanaman dan bekerja secara non-simbiotik, artinya mereka tidak perlu hidup menempel pada akar tanaman tertentu untuk bisa berfungsi.
Azotobacter ditemukan pertama kali oleh ahli mikrobiologi asal Belanda, Martinus Beijerinck, pada tahun 1901. Bakteri ini hanya bisa hidup di tanah yang bersifat netral hingga basa (tidak terlalu asam) dan sering ditemukan di daerah yang subur.
Bagaimana Azotobacter Bekerja?
Azotobacter bekerja dengan cara mengikat nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh akar tanaman, seperti amonia. Selain itu, bakteri ini juga menghasilkan berbagai zat yang bermanfaat bagi tanaman, seperti:
- Thiomin dan Riboflavin, yang berperan dalam meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit.
- Nicotin, yang membantu tanaman menyerap nutrisi dengan lebih baik.
- Indol Acetic Acid dan Giberalin, yang berfungsi sebagai hormon pertumbuhan untuk mempercepat perkecambahan dan perkembangan akar.
Dengan berbagai zat ini, tanaman bisa tumbuh lebih cepat, lebih sehat, dan lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang ideal.
Manfaat Azotobacter untuk Tanaman

Penggunaan Azotobacter dalam pertanian memberikan berbagai manfaat yang sangat menguntungkan bagi petani. Berikut adalah beberapa keunggulannya:
1. Mengurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia
Karena Azotobacter bisa menyediakan nitrogen secara alami, petani tidak perlu menggunakan pupuk nitrogen dalam jumlah besar. Hal ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga lebih ramah lingkungan karena mengurangi risiko pencemaran tanah dan air akibat residu pupuk kimia.
2. Meningkatkan Kesuburan Tanah
Azotobacter membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme dalam tanah dan memperbaiki struktur tanah. Dengan penggunaan jangka panjang, tanah menjadi lebih subur dan lebih baik dalam menyimpan air serta nutrisi.
3. Mempercepat Perkecambahan dan Pertumbuhan Tanaman
Penelitian menunjukkan bahwa benih yang dicampur dengan Azotobacter sebelum ditanam memiliki tingkat perkecambahan yang lebih tinggi dibandingkan benih biasa. Selain itu, tanaman yang tumbuh dengan bantuan Azotobacter memiliki akar yang lebih kuat dan lebih banyak daun hijau.
4. Melindungi Tanaman dari Penyakit
Beberapa jenis Azotobacter mampu menghasilkan zat yang dapat melawan mikroorganisme penyebab penyakit tanaman. Dengan demikian, tanaman menjadi lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanpa perlu banyak pestisida.
Azotobacter dalam Pertanian
Sebuah penelitian dilakukan di Provinsi Fars untuk menguji efektivitas Azotobacter dalam meningkatkan hasil panen seperti gandum, padi, jagung, tomat, bawang, dan kol. Dalam penelitian ini, dua jenis Azotobacter digunakan: Azotobacter Chroococcum dan Azotobacter Paspali.
Percobaan dilakukan pada berbagai kondisi tanah, termasuk tanah steril dan tanah yang diberi pupuk kandang. Selain itu, beberapa level pupuk nitrogen juga digunakan untuk melihat pengaruh Azotobacter terhadap penggunaan pupuk kimia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pot yang diberi Azotobacter Chroococcum dan Azotobacter Paspali menghasilkan bobot benih tertinggi dibandingkan pot yang tidak menggunakan bakteri ini. Selain itu, pertumbuhan tanaman terbaik ditemukan pada pot yang menggunakan pupuk kandang tanpa sterilisasi.
Penelitian ini membuktikan bahwa Azotobacter asli dari daerah tersebut lebih efektif dalam meningkatkan hasil panen gandum karena lebih cocok dengan kondisi tanah dan iklim setempat.
Bagaimana Cara Menggunakan Azotobacter?
Petani bisa menggunakan Azotobacter dengan beberapa cara, di antaranya:
- Mencampur Azotobacter dengan benih sebelum tanam
- Cara ini membantu benih tumbuh lebih cepat dan lebih sehat sejak awal.
- Menyemprotkan Azotobacter ke tanah sebelum menanam
- Ini berguna untuk memperbaiki kesuburan tanah dan membantu tanaman menyerap nitrogen lebih baik.
- Menggunakan Azotobacter bersama pupuk organik seperti pupuk kandang
- Kombinasi ini terbukti memberikan hasil terbaik karena pupuk kandang menyediakan bahan organik yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang.
Namun, penting untuk diingat bahwa Azotobacter lebih efektif pada tanah yang tidak terlalu asam. Jika tanah terlalu asam, penggunaan kapur pertanian bisa membantu meningkatkan pH tanah agar bakteri ini bisa bekerja dengan optimal.
Sumber:
- Hidayat, Nur., et al. “Mikroorganisme dan Pemanfaatannya.” (2018): 177-178.
- Socolofsky, M. D., & Wyss, O. (1961). Azotobacter. Journal of Bacteriology, 81(6), 946–954.
- Wani, Sartaj A., et al. “Azotobacter chroococcum–a potential biofertilizer in agriculture: an overview.” Soil science: agricultural and environmental prospectives (2016): 333-348.
Penulis: Layni Ubudiyah
Editor: Mtani Editor (Sheila Fathin)