Tantangan perubahan iklim serta keterbatasan sumber daya alam mendorong sektor pertanian untuk beradaptasi dan berinovasi, khususnya dalam budidaya padi. Dalam dunia pertanian, budidaya padi membutuhkan air yang cukup. Sebagai bahan makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia, produksi padi harus tetap terjaga agar kebutuhannya tetap stabil di tengah kondisi lingkungan yang terus berubah. Oleh karena itu, cara bertani yang cerdas dan hemat air menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan tanpa mengorbankan hasil panen. Efisiensi penggunaan air dapat dilakukan sebelum mengetahui berapa banyak air yang dibutuhkan tanaman padi di setiap fase pertumbuhannya.
Pertumbuhan tanaman padi dibagi menjadi tiga fase, diantaranya, (1) Fase vegetatif mulai dari awal pertumbuhan hingga pembentukan bakal malai/primordial; (2) Fase reproduktif dimulai dari munculnya primordial sampai dengan pembungaan; (3) Fase pematangan dimulai dari masa pembungaan sampai gabah menjadi matang dan siap untuk dipanen. Fase vegetatif umumnya ditandai dengan adanya pertambahan jumlah anakan, tinggi tanaman, serta luas daun. Fase reproduktif ditandai dengan adanya pertambahan panjang beberapa ruas teratas batang tanaman, munculnya daun bendera, reproduktif awal, serta pembungaan (heading).
Setiap fase pertumbuhan padi membutuhkan pengelolaan air yang berbeda, sehingga pemahaman tentang kebutuhan air di setiap tahapan sangat penting untuk hasil panen yang optimal. Tanaman padi membutuhkan kelembapan tanah yang stabil, bukan genangan air yang terus menerus. Dalam satu musim tanam, rata-rata kebutuhan air padi berkisar antara 1.000 hingga 1.500 mm, tergantung varietas dan kondisi lahan. Genangan yang berlebihan justru bisa memicu pemborosan air, memperburuk drainase, hingga mengundang hama dan penyakit. Oleh karena itu, pendekatan pertanian modern mulai mendorong sistem irigasi hemat air seperti Alternate Wetting and Drying (AWD) yang menjaga kelembaban optimal tanpa banjir, sekaligus lebih ramah lingkungan dan efisien.
Alternate Wetting and Drying (AWD)
Metode AWD (Alternate Wetting and Drying) merupakan teknik budidaya padi yang dilakukan dengan cara mengeringkan lahan secara berkala selama masa tanam, sehingga tidak terus-menerus tergenang air. Teknik irigasi tersebut terbukti efektif menghemat penggunaan air hingga 30% dibandingkan metode tradisional, karena memberikan air secara langsung ke akar tanaman melalui sistem pipa yang terpasang sehingga pertumbuhan akar padi menjadi lebih kuat dan sehat. Metode ini dilakukan mulai tanam hingga tanaman berumur satu minggu sebelum tanaman berbunga. Pengairan pada lahan sawah dilakukan ketika kedalaman muka air tanah mencapai lebih dari 15 cm dari permukaan tanah, sehingga teknik ini dapat dikatakan cukup sederhana namun menimbulkan dampak besar terutama efisiensi air dan pengurangan emisi.
Beberapa manfaat dari penetapan metode AWD antara lain:
- Mengurangi emisi metana hingga 49%, yang artinya lebih ramah bagi lingkungan
- Menghemat air irigasi 15-35% tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman
- Produktivitas tetap terjaga, jadi petani tetap bisa panen dengan hasil optimal
- Mendukung rotasi tanaman dan intensifikasi lahan, sehingga tanah bisa dimanfaatkan lebih optimal
Keunggulan metode ini direkomendasikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dan (International Rice Research Institute), terutama untuk diterapkan di wilayah beriklim tropis yang rawan mengalami kelangkaan air atau musim kering. Rekomendasi ini tidak lepas dari dampak negatif praktik penggenangan air secara terus-menerus, yang dapat menyebabkan akar kekurangan oksigen (hipoksia), meningkatkan risiko penyakit akar dan pembusukan, serta mengakibatkan pemborosan air yang tidak sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan.
Penulis: Rizka Alvina Rachmawati
Editor: MTani Editor (Nur Syifaa Ramdani)