MTani Group

Regenerasi Petani: Tantangan dan Harapan di Tengah Transformasi Pertanian Indonesia

Regenerasi petani merupakan upaya berkelanjutan untuk memastikan bahwa profesi petani tetap menarik bagi generasi muda, guna menjamin kesinambungan produksi di masa depan. Di tengah arus modernisasi dan urbanisasi yang pesat, pertanian Indonesia menghadapi tantangan besar: krisis regenerasi petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sekitar 58% tenaga kerja di sektor pertanian berusia 45 tahun ke atas (Februari 2023). Dengan demikian, hal tersebut menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap dunia pertanian rendah. Jika dibiarkan, hal ini bisa menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan nasional di masa depan.

Mengapa Regenerasi Petani Mendesak?

Pertanian bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekonomi pedesaan dan pondasi pembangunan nasional. Namun pada kenyataannya, profesi petani sering dianggap tidak menjanjikan: memiliki penghasilan yang rendah, ketidakpastian cuaca, dan akses terbatas terhadap modal, teknologi, serta pasar. Fenomena ini menjelaskan kecenderungan generasi muda untuk beralih ke sektor non-pertanian, khususnya di kota-kota besar.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pertanian modern memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Melalui pemanfaatan teknologi digital, pertanian presisi, dan platform e-commerce untuk hasil tani, generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak utama dalam menciptakan model pertanian yang lebih efisien, kreatif, dan bernilai ekonomi tinggi. Meskipun berbagai kemudahan telah dihadirkan dalam sektor pertanian melalui perkembangan teknologi dan inovasi, kenyataannya minat generasi muda untuk terlibat dalam sektor ini masih relatif rendah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian:

  • Stigma sosial: Bertani sering dianggap pekerjaan kuno, kotor, dan tidak menjanjikan.
  • Penghasilan tidak menentu: Ketergantungan pada musim dan harga pasar membuat banyak petani sulit meraih stabilitas ekonomi.
  • Minimnya akses teknologi dan modal: Anak muda kerap menghadapi kendala ketika ingin memulai usaha tani modern.
  • Kurangnya regenerasi dalam keluarga tani: Banyak anak petani memilih karir di sektor lain, terutama di kota.

Harapan: Membangun Citra Baru Petani

Regenerasi petani bukan sekadar soal kuantitas, tetapi juga transformasi citra. Petani hari ini bukan hanya tukang cangkul, tetapi bisa menjadi agropreneur, inovator, dan penggerak ekonomi desa. Munculnya sejumlah komunitas seperti petani muda organik, agrotech startup, dan koperasi digital menunjukkan bahwa generasi muda siap berperan jika diberi ruang dan dukungan yang memadai.

Krisis regenerasi petani harus dilihat sebagai peluang untuk melakukan revolusi mental dan struktural di sektor pertanian. Mendorong keterlibatan generasi muda, memberikan akses nyata terhadap teknologi dan pasar, serta membangun ekosistem agribisnis yang sehat akan menjadi kunci menuju pertanian masa depan yang berdaulat, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Upaya Pemerintah: Petani Milenial dan Akses Teknologi

Dalam mengatasi hal ini, sejumlah upaya dilakukan untuk menjadikan sektor pertanian lebih menarik, modern, dan berdaya saing. Upaya yang dilakukan diharapkan mampu membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, sekaligus mendorong percepatan transformasi menuju sistem pertanian yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah meluncurkan berbagai program strategis, seperti:

  • Program Petani Milenial: Memberikan pelatihan kewirausahaan agribisnis, teknologi pertanian, hingga akses ke permodalan dan pasar. Program ini bertujuan menciptakan petani yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki jiwa wirausaha dan mampu bersaing di era pertanian modern.
  • Pembentukan Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS): Fokus pada pengembangan SDM muda berbasis pertanian di wilayah pedesaan. Melalui program ini, anak muda di daerah diberikan dukungan berupa pelatihan, mentoring, hingga bantuan modal agar mampu menciptakan lapangan kerja sendiri di sektor pertanian
  • Akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian: Mempermudah generasi muda memperoleh pembiayaan usaha tani. Dengan bunga rendah dan persyaratan yang disederhanakan, KUR diharapkan dapat mengurangi hambatan finansial bagi petani pemula untuk memulai atau mengembangkan usahanya.
  • Digitalisasi Pertanian: Penyediaan platform digital untuk edukasi, manajemen lahan, penjualan hasil panen, dan pengelolaan rantai pasok. Langkah ini mendorong efisiensi dan transparansi dalam kegiatan pertanian, serta menjadikan sektor ini lebih relevan dan menarik bagi generasi yang melek teknologi.

Regenerasi petani adalah langkah krusial untuk menjaga ketahanan pangan dan berkelanjutan sektor pertanian di tengah rendahnya minat generasi muda. Diperlukan upaya menyeluruh yang mencakup pelatihan, akses teknologi, pembiayaan, dan perubahan citra profesi petani agar lebih relevan dan menarik. Terciptanya ekosistem pertanian yang mendukung dan partisipasi aktif generasi muda akan membuka peluang bagi pertanian Indonesia untuk tumbuh menjadi sektor yang lebih mandiri, modern, dan berkelanjutan.

Penulis: Rizka Alvina Rachmawati

Editor: Mtani Editor (Nur Syifaa Ramdani)

Share the Post: